Jika jarak tidak menjadi kendala
dan waktu tidak menjadi masalah
Jangan lagi untuk berpikir
Cukup melangkahlah kesini

Kan kusambut lelahmu dengan senyuman
Ku seka keringatmu dengan air kehidupan
Ku suguhkan penawar lapar dari hasil tangan

Ku jaminkan tinggal mu disini,
cukup dinding gunung yang menjadi pagar
dan langit biru yang menaungi
Permadani hijau ku sediakan sebagai alas yang menghampar

Tarian dasa tawa anak ceria
dan nyanyian satwa mengiringi
Selimut putih kabut yang selalu menaungi
Ku suguhkan untukmu para penjelajah

(Wae Rebo, 5 Juni 2015)

Sedikit coretan di atas mungkin hanya sebagian gambaran bagaimana kita mendeskripsikan keindahan desa diatas awan “Wae Rebo”.

Wae rebo adalah desa adat yang ada di Flores, NTT tepatnya di Barat daya Ruteng, Manggarai Barat. Berada di lembah salah satu gunung, membuat desa ini dikelilingi hutan dan dinding-dinding gunung. Wae rebo memiliki 7 (tidak boleh lebih) rumah adat yang unik yaitu berbentuk kerucut yang atapnya terbuat dari ijuk dan ilalang yang dinamakan Mbaru Niang. Tinggi rumah ini 15 meter dan satu rumah bisa ditinggali 8 – 10 keluarga secara bersama-sama.

Wae rebo ternyata lebih dulu terkenal di dunia internasional dibanding di Indonesia, jadi jangan heran jika kita menjumpai wisatawan asing lebih banyak dibanding wisatawan dalam negeri di Wae Rebo ini. Wae rebo mendapat penghargaan Unesco Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation pada tahun 2012.

Perjalanan menuju Wae Rebo ini dimulai dari Ruteng yang merupakan ibu kota Manggarai Barat.. Perjalanan dari Ruteng menuju desa Denge memakan waktu sekitar 3 jam menggunakan mobil. Medan yang dilalui mulai dari jalanan aspal yang rata, beralih ke jalan berbatu menyusuri hutan kemudian menyusuri pantai, sawah, pedesaan memang rute menuju desa Denge ini pun cukup membingungkan bagi yang baru satu atau dua kali kesini.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan tibalah kami di penginapan pak Blasius yaitu tempat menginap terakhir yang paling dekat dengan titik perjalanan menuju Wae Rebo. Kami yang baru tiba jam 10 malam disambut oleh pak Blasius dengan makanan yang sudah disiapkan dari sore, walopun sudah dingin tetap terasa nikmat, atau karena kami memang sangat kelaparan ya…. he3.

Setelah makan dan bersih-bersih kami memutuskan segera beristirahat karena kami berencana berangkat pagi-pagi supaya tidak terlalu panas menempuh perjalanan. Meskipun begitu beberapa orang dari kami sibuk membuat beberapa persiapan untuk menyambut summit kami dia wae Rebo yang melegenda (nanti diceritakan apa yang sedang dibuat),

Jam 4 pagi kami sudah bangun, dan bersiap-siap. Satu jam kemudian kami mulai melakukan perjalanan, ya saat keadaan masih gelap, untung kami berbekal senter. Medan awal perjalanan adalah jalan berbatu, kemudian berubah menjadi perkebunan masyarakat kemudian mulai masuk hutan.

Beberapa kali kami harus beristirahat karena memang kami harus bersama-sama. Tak jarang kami harus melewati medan menyeberang sungai kecil, melompati pohon yang tumbang menghalangi jalan bahkan tidak jarang kami harus hati-hati berjalan karena di sebelah kanan atau kiri kami jurang yang cukup dalam sedangkan di bagian lain adalah tebing.

Jarak tempuh 9 km dari titik awal dekat penginapan pak Blasius hingga ke desa Wae rebo biasanya ditempuh 3 – 4 jam. Dengan medan seperti tadi cukup menguras tenaga, apalagi setelah setengah perjalanan setiap 100 meter mulai ada papan penanda jarak hingga Wae Rebo. Sering kami merasa sudah jauh berjalan ternyata hanya baru 100 meter, tapi pemandangan yang indah, suara burung ataupun seranggga seakan selalu menyemangati kami untuk terus melangkah.